Jakarta
- PT Pos Indonesia (Persero)
memanfaatkan digitalisasi untuk menjamin validitas penyaluran Bantuan Sosial
(Bansos) Sembako dan Program Keluarga Harapan (PKH) yang ditugaskan Pemerintah
kepada BUMN tersebut.
Direktur Operasi dan Digital
Service PT Pos Indonesia (Persero) Hariadi menjelaskan terdapat dua
teknologi digital yang diterapkan ke seluruh Kantor Pos di Tanah Air dalam
menyalurkan Bansos Sembako dan
PKH untuk memvalidasi data penerima bantuan atau Keluarga Penerima Manfaat
(KPM).
Pertama, menerapkan teknologi face recognition. Dalam
penerapannya, Pos Indonesia menggunakan proses verifikasi melalui Electronic
Know Your Customer atau dikenal dengan e-KYC.
Kedua,
Pos Indonesia menerapkan teknologi geotagging untuk mengecek lokasi KPM.
"Jadi kami akan memiliki
dua basis data. Data validasi terkait dengan kebenaran dari objek, KPM. Kedua
terkait dengan lokasi sendiri," katanya melalui keterangan tertulis di
Jakarta, Minggu, 30 Juli 2023.
Penerapan teknologi digital juga diberlakukan Pos Indonesia
kepada para petugas Kantor Pos yang ingin menyalurkan bansos melalui metode door to door. Para petugas
juru bayar Kantor Pos akan difasilitasi aplikasi untuk memverifikasi KPM.
Menurut Hariadi, teknologi aplikasi tersebut juga terbilang
canggih, jika terkendala dengan sinyal, para petugas Kantor Pos tetap bisa
melakukan proses face recognition dan geotagging dalam aplikasi tersebut.
Ketika
sinyal sudah aktif kembali, data KPM yang diambil melalui kedua proses tadi
tetap akan masuk di sistem aplikasi tersebut.
Dia menyatakan pula, penerapan
teknologi digital sangat bermanfaat, terutama dalam penyimpanan data para warga
yang menjadi KPM bantuan yang akan memudahkan Pos Indonesia untuk kembali
menyalurkan program bantuan selanjutnya ketika dipercaya kembali oleh Pemerintah
Hariadi
menambahkan, pihaknya tidak pernah bekerja sendiri dalam menyalurkan bantuan,
namun selalu mendengar dan mengutamakan komunikasi dengan para pemangku,
termasuk Kementerian Sosial yang memberi kepercayaan penyaluran bantuan ini.
"Kami mendengarkan
aspirasi-aspirasi mereka. Jadi akhirnya apa yang kami lakukan dengan menerapkan
face recognition dan geotagging sebenarnya salah satu aspirasi yang
disampaikan. Bagaimana kami memastikan bahwa penyalurannya benar-benar tepat
sasaran. Kami Meminimalisasikan Jumlah KPM-KPM yang tidak Layak," Katanya. (*)

0 Komentar